Sistem Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Malaysia, Inggris, serta Uni Emirat Arab

Suatu Studi Perbandingan

  • Arini Pratiwi Universitas Islam Negeri Kendari, Indonesia
  • Syawaluddin Hanafi Institut Agama Islam Negeri Bone, Indonesia
  • Hasniati Hasniati Universitas Islam Negeri Kendari, Indonesia
  • Rachmadani Rachmadani Universitas Islam Negeri Kendari, Indonesia
  • Muspita Sari Institut Agama Islam Negeri Bone, Indonesia
Keywords: Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariahh, Kepastian Hukum, Pluralisme Hukum, Perbandingan Hukum, Keuangan Syariah

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan konstruksi, karakteristik, dan dasar pengembangan sistem penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Malaysia, Inggris, dan Uni Emirat Arab, serta mengidentifikasi kontribusi konseptualnya bagi penguatan kepastian hukum masyarakat Muslim. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan perbandingan hukum. Data diperoleh melalui studi terhadap peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, dokumen kelembagaan, dan literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan teori kepastian hukum, pluralisme hukum, perbandingan hukum, dan konsep transplantasi hukum. Hasil penelitian menunjukkan tiga model berbeda. Malaysia menerapkan model integratif terpusat melalui Shariah Advisory Council yang keputusannya mengikat pengadilan dan arbiter. Inggris menggunakan model sekuler kontraktual yang menempatkan hukum Inggris sebagai dasar litigasi, tetapi membuka ruang penerapan prinsip syariah melalui kontrak dan arbitrase. Uni Emirat Arab menerapkan model pluralistic berjenjang melalui Higher Shari’ah Authority pada sistem onshore serta pilihan forum melalui DIFC, ADGM, dan arbitrase. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kedudukan syariah, tradisi hukum, struktur kelembagaan, dan kepentingan ekonomi masing-masing negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepastian hukum tidak cukup ditentukan oleh keberadaan norma syariah, tetapi juga oleh kejelasan otoritas penafsir, pilihan hukum dan forum, kompetensi lembaga penyelesaian sengketa, serta efektivitas pelaksanaan putusan. Ketiga model tersebut menawarkan pelajaran tentang keseragaman tafsir syariah, otonomi para pihak, dan koordinasi forum penyelesaian sengketa. Secara teoritis, temuan ini menegaskan bahwa pluralisme hukum tidak selalu menimbulkan ketidakpastian sepanjang hubungan antara hukum negara, prinsip syariah, otoritas penafsir, dan forum penyelesaian sengketa diatur secara jelas, konsisten, dan dapat diprediksi.

 

References

Abdul Karim Aldohni. (2022). Rethinking dispute resolution mechanisms for Islamic finance: understanding litigation and arbitration in context.N.Ir.Legal Q,618.

Adhyarsa, B. A., & Bakhtiar, H. S. (2025). Penyelesaian Sengketa Arbitrase Dalam Perspektif Hukum Indonesia dan Malaysia Arbitration Dispute Resolution in the Perspective of Indonesian and Malaysian Law Dinamika globalisasi ekonomi telah mengakselerasi pertumbuhan transaksi komersial lintas batas. Abdurrauf Science and Society, 1(4), 812–819. https://doi.org/10.70742/asoc.v1i4.287

Aldabousi, A. M., Awad, A., Hassan, H. E. M., Abdullah, S. S., & Ghonim, A. (2025). Arbitration in Islamic banking: Exploring legal and practical implications for dispute resolution. Banks and Bank Systems, 20(2), 15.

Andreas Junius. (2006). Islamic finance: issues surrounding Islamic law as a choice of law under German conflict of laws principles. Chi. J. Int’l L, 7, 537. https://access.heinonline.com/HOL/LandingPage?

handle=hein.journals/cjil7&div=29 &id=&page= Arbitration Act 1996, 108 (2005).

Banerje, S. (2026, February). Islamic Finance Development Report 2025: How Fifty Years of Growth is Shaping The Global Economy.Travel and Tour World.

Berrahlia, B. (2025). Limits of Legal Certainty : A Commentary on the “ Dana Gas ” Case. 2(14), 1–16. https://doi.org/https://doi.org/10.3390/laws14020022

Beximco Pharmaceuticals Ltd v Shamil Bank of Bahrain EC [2004] APP.L.R. 01/28 CA on Appeal from QBD (Morison J) before Potter LJ; Laws LJ; Arden LJ. 28, 1 (2004).

http://www.nadr.co.uk/articles/published/ArbitLawReports/Beximco v Shamil 2004.pdf

Central Bank of Malaysia Act (2009).

César, J., & Flores, A. (2025). Legal pluralism and islamic law : challenges and reforms in the arab world Pluralismo Jurídico y Derecho islámico : desafíos y reformas en el mundo árabe. South American Publishinng.https://doi.org/10.56294/cid2025164

Dewi Riza Lisvi Vahlevi. (2021). Konsep Sulh Dan Tahkim Sebagai Alternatif dalam Upaya Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Era. Ekonomi, Jurnal Darussalam, Syariah, 2(2), 81–91. https://ejournal.uimsya.ac.id/index.php/JESDar/article/view/1105/743

Federal Decree by Law No. (6) of 2025 Regarding the Central Bank, Regulation of Financial Institutions and Activities, and Insurance Business (2025). file:///C:/Users/U53R/Downloads/CBUAE_EN_6185_VER1.pdf

Federal Law No . ( 6 ) of 2018 Concerning Arbitration Hereby Enact the Following Law : Chapter One Definitions and Applicability Definitions Article ( 1 ), 1 (2018). https://uaelegislation.gov.ae/en/legislations/1069/download

Financial Services Act 2013 (2013).

Galih Pratama. (2025). OJK Luncurkan Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia 2024. Infobanknews.Com. https://infobanknews.com/ojk-luncurkan-laporan-perkembangan-keuangan-syariah-indonesia-2024

Gilang Rahmadani, dkk. (2026). Analisis perbandingan regulasi dan implementasi hukum bisnis syariah di timur tengah, malaysia, dan eropa. Al-A’mal, 2(2), 22–33. https://journal.staittd.ac.id/index.php/ai/article/view/373

Gustav Radbruch. (1946). Gesetzliches Unrecht Und Übergesetzliches Recht. Süddeutsche Juristen-Zeitung, 1(5), 8–105. https://doi.org/http://www.jstor.org/stable/20800812.

Hashwani, J., & Jun, A. E. R. D. (2009). ISLAMIC LAW IN SECULAR COURTS ( AGAIN ): TEACHABLE MOMENTS FROM THE JOURNEY. 1–7.

Husain, S., Ayoub, N. P., & Hassmann, M. (2024). Legal pluralism in contemporary societies : Dynamics of interaction between islamic law and secular civil law. SYARIAT, 1(1), 1–17.https://pdfs.semanticscholar.org/66ac/84abe66f5b03a5d30575809b147f609212e1.

Islamic Financial Services Act 2013, 1 (2013). https://www.bnm.gov.my/legislation Marzuki, P.M.(2017).Penelitian Hukum. Kencana.

Mohiuddin, A., & Bin Borham, A. H. (2022). (2022). Muslim minorities and application of Islamic law in Europe. Journal of Muslim Minority Affairs, 42(4), 428–449.

Network, F. N. (2025). Global Islamic Finance Grows 14.9%, Reaches US$3.9 Trillion in Total Assets. Fintech News UAE. https://fintechnews.ae/26461/fintech/global-islamic-finance-grows-14-9-reaches-us3-9-trillion-in-total-assets/

Raka, G. (2018). Dualisme Kewenangan Peradilan Dalam Sengketa Perbankan Syariah Pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-X/2012. CEPALO, 2(93), 55–66. https://doi.org/https://doi.org/10.25041/cepalo.v2no1.1762

Safira, C. Z. (2026). An Analysis of the Application of the IMBT Contract in Financing Products at Bank Aceh Syariah from the Perspective of MUI DSN. Khuluqiyya, 08(1), 61–70. https://doi.org/https://doi.org/10.56593/khuluqiyya.v8i1.195

Sherin Kunhibava. (2009). The Constitutionality of sections 56 and 57 of the Central Bank of Malaysia Act 2009 - JRI Resources Sdn Bhd v Kuwait Finance. The Journal of Malaysian and Comparative Law (JMCL), 46(2).

Soejono Soekanto. (1986). Pengantar Penelitian Hukum. UI Press.

Suadi, A., & Affandi, M. T. (2024). Best Practices in Interconnecting Sharia Arbitration Norms : A Comparative Analysis of Indonesia and Europe. Indonesian Journal of Islamic Economic Law, 1(1), 23–38. h

Syamsuddin Pasamai. (2013). Metode Peneltian dan Penulisan Karya Ilmiah Hukum. PT Umitoha Ukhuwah Grafika.

The Constitution of the United Arab Emirates. https://uaelegislation.gov.ae/en/constitution

Warde I. (2010). Islamic finance in the global economy. Edinburgh University Press. Edinburgh University Press.

Published
2026-08-08